Konsultasi Rohani

Form Isian Konsultasi Rohani

Silahkan mengisi form isian konsultasi rohani berikut,

untuk berkonsultasi atau bertanya mengenai masalah rohani keagamaan Anda.

6 Comments

  1. Niki Renata says:

    Assalamualaikum,
    Pak Ustadz, saya mau bertanya, bagaimana hukum menjual ayam aduan? setahu saya jual beli itu halal. namun yang saya ragukan karena yang dijual itu ayam aduan, meskipun penjual tidak berarti pengadu ayam.
    Mohon pencerahannya. Terima kasih.

    • admin says:

      Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wa Barokatuh
      Saudaraku yang budiman, pertanyaan yang sangat bagus sebab bisa jadi hal ini banyak terjadi di sekitar kita. Sebelum membahas tentang bagaimana hukum jual beli ayam aduan alangkah baiknya kita mengetahui dulu hukum adu ayam. Tradisi mengadu hewan yang dilakukan masyarakat tradisional di Indonesia sebagai tontonan sudah menjadi hal yang umum bahkan sangat wajar. Mulai dari adu ayam, kerbau, sapi bahkan babi hutan di daerah pesisir Selatan Jawa Barat. Permainan seperti ini bisa Anda temui di beberapa daerah.
      Dalam sebuah hadis dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan :
      نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ الْبَهَائِمِ
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengadu binatang. (HR. Abu Daud 2562, Turmudzi 1708, dan yang lainnya).
      As-Syaukani ketika menyebutkan hadis ini mengatakan,
      ووجه النهي أنه إيلام للحيوانات وإتعاب لها بدون فائدة بل مجرد عبث
      Sisi larangannya, yaitu karena mengadu binatang akan menyakiti binatang tersebut, membebani mereka tanpa manfaat, selain hanya main-main. (Nailul Authar, 8/99).
      Dalam kitab Al-Bajuri Juz 2 Hal 307 juga disebutkan:
      Dan sesungguhnya haram akad adu domba dan adu ayam secara mutlak karena merupakan perbuatan bodoh dan termasuk perbuatan kaum nabi Luth AS yang dibinasakan Allah sebab dosa-dosa mereka.
      Dari dalil di atas maka dapat disimpulkan bahwa hukum dari adu ayam adalah TIDAK BOLEH atau HARAM. Lalu pertanyaannya bagaimana hukum menjual hewan aduan ?
      Pada dasarnya hukum asal jual beli adalah halal. Sebagaimana dalam al-Qur’an dinyatakan dengan jelas WA AHALALLAHUL BAI’. Dalam ayat itu ditegaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli. Jual beli yang disebut dalam ayat di atas lafadznya umum mencakup semua jenis dan macam jual beli. Oleh karena itu, selama tidak ada dalil yang mengharamkan jenis jual beli tertentu, seperti jual beli bangkai atau salib maka kemubahan jual beli tetap berlaku, sehingga jual beli ayam aduan termasuk keumuman Mubahnya jual beli dalam ayat ini.
      Namun jual beli bisa berubah hukumnya menjadi TIDAK BOLEH atau HARAM ketika kita tahu bahwa akan digunakan tidak sebagaimana mestinya. Seperti menjual pisau kepada orang yang diketahui akan membunuh dan lain-lain. Sehingga menjual ayam aduan pada orang yang ia ketahui atau ia duga kuat untuk diadu adalah HARAM.

      ( و ) حرم أيضا ( بيع نحو عنب ممن ) علم أو ( ظن أنه يتخذه مسكرا ) للشرب والأمرد ممن عرف بالفجور به والديك للمهارشة والكبش للمناطحةوالحرير لرجل يلبسه وكذا بيع نحو المسك لكافر يشتري لتطييب الصنم والحيوان لكافر علم أنه يأكله بلا ذبحوعبارة شيخ الإسلام ومحل تحريم بيعه ذلك ممن ذكر إذا تحقق أو ظن أنه يفعل ذلك فإن توهمه كره اه

      “Dan HARAM menjual semacam anggur bagi orang yang sudah diketahui atau diduga bahwa dia akan mempergunakannya sebagai barang yang memabukkan untuk diminum, dan menjual laki-laki muda yang rupawan bagi orang yang akan melakukan homoseksual dengannya, dan menjual ayam jago untuk disabung, menjual kambing untuk diadu, dan menjual sutra kepada orang laki-laki yang akan memakainya, begitu juga menjual semacam minyak wangi misik pada orang kafir yang membeli untuk mewangikan berhalanya serta binatang pada orang kafir yang diketahui hendak dimakan tanpa disembelih .”Redaksi Syaikh Islam “Keharaman penjualan tersebut bila dijual pada orang yang sudah diketahui atau diduga kuat mengerjakan hal-hal diatas bila hanya sebatas perkiraan maka hukum menjualnya MAKRUH”
      I’anah at-Thaalibin III/23-24
      Hal itu tidak diperbolehkan karena termasuk dalam ranah ‘IAANAH ALA AL-MA’SYIYAT (menolong perbuatan kearah maksiat). Sedangkan dalam al-Qur’an dinyatakan dengan jelas.

      “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”(QS. 5:2)
      SEMOGA BERMANFAAT

  2. beedigitalk says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Ustad, saya dari beedigitalk kapan saja kita diperbolehkan bertayamum dan bagaimana petunjuk singkatnya ?

    • admin says:

      Wa’alaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh

      Bismillahirrahmanirrahim…
      Saudaraku yang dimuliakan Allah
      Dalam beberapa literatur kitab fiqh seperti Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Kifayatul Akhyar dan lain-lain secara umum disebutkan ada 3 hal yang menjadikan kita diperbolehkan tayamum;
      1. Tidak menemukan air; bisa jadi dikarenakan memang tidak ada air disebabkan kemarau atau ada air tapi kita tidak bisa menjangkauanya.
      2. Ada air akan tetapi dapat menimbulkan dampak negatif pada tubuh jika digunakan, seperti karena sakit.
      3. Ada air tapi dibutuhkan untuk yang lebih penting semisal untuk minum.

      Berikut ini petunjuk singkat tayamum;

      1. Niat

      Niat tayamum dilakukan ketika memindah debu. Yaitu setelah menepukkan kedua telapak tangan ke debu dan berlanjut sampai mengusap wajah. Adapun bacaan niat tayamum adalah sebagai berikut:

      نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ للهِ تعَاَلَى

      Artinya: “Saya niat tayamum agar dapat diperbolehkan melaksanakan shalat fardhu karena Allah Ta’ala”.

      Tayamum tidak boleh diniati “untuk menghilangkan hadas” karena tayamum hanyalah sesuci pengganti dan tidak dapat menghilangkan hadas.

      2. Memindah debu

      Maksud dari memindah di sini adalah adanya usaha dari orang yang bertayamum dalam memindah debu. Jika tidak ada usaha, semisal berdiri di tempat yang berlawanan dengan arah angin, kemudian langsung mengusap wajahnya yang terkena debu yang dihempaskan angin, maka hal itu tidak cukup. Sebab, dalam praktek tersebut tidak ada unsur memindah debu.

      3. Mengusap wajah

      Caranya: mengusap dari bagian atas wajah dan meratakannya ke seluruh permukaan wajah, dengan satu kali tepukan. Sedangkan batas wajah yang harus diusap sama dengan batas wajah yang harus dibasuh dalam wudhu.

      4. Mengusap kedua tangan

      Batas tangan yang diusap adalah dari ujung jari sampai dengan siku, sama seperti dalam wudhu. Caranya: usaplah tangan kanan dari ujung jari-jari sampai dengan siku dengan menggunakan tangan kiri. Lalu usaplah tangan kiri dengan menggunakan tangan kanan juga dari ujung jari-jari sampai dengan siku.

      Untuk mengusap wajah dan kedua tangan harus menggunakan tepukan yang berbeda: satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan lagi untuk kedua tangan.

      5. Tartîb atau dilakukan secara berurutan

      Dalam tayamum, harus mengusap wajah terlebih dahulu lalu mengusap kedua tangan.

      Demikian
      Wallahu A’lam
      SEMOGA BERMANFAAT

  3. beecreative says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Yth pengasuh konsultasi rohani di website rsisultanagung.co.id, saya dari beecreative mau bertanya. Kapan saat yang tepat untuk mengucapkan alhamdulillah, astaghfirullah, masya Allah, Subhanallah dan Insya Allah ?

    • admin says:

      Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh

      Saudaraku yang dimuliakan Allah, pada dasarnya semua ucapan di atas adalah termasuk dzikr sebab bertalian langsung dengan upaya seorang hamba dalam mengingat atau menyandarkan sesuatu hanya kepada Allah. Sehingga secara umum ucapan tersebut tepat diucapkan saat apapun. Namun kalau merujuk pada makna dasar dari ungkapan di atas tentu bisa diklasifikasikan sesuai dengan maknanya;

      1. Alhamdulillah, maknanya adalah segala puji bagi Allah, sehingga paling tepat ungkapan ini diucapkan saat mendapatkan anugerah dari Allah. Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang diawali dengan lafazh Alhamdulillah yang menunujukan betapa besar karunia Allah Swt, salah satu contohnya adalah di awal surat al-Fatihah.

      2. Astaghfirullah, maknanya adalah aku mohon ampunan kepada Allah, lafazh istighfar ini paling tepat diucapkan saat seorang hamba merasa telah atau saat sadar sedang berbuat dosa atau apapun yang tidak dikehendaki Allah.
      Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

      يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

      “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” [HR. Muslim no. 6737]

      3. Masyaallah, maknanya adalah sungguh atas kehendak Allah, lafazh ini secara umum tepat untuk menujukan kekaguman terhadap karunia Allah. Dalam al-Qur’an difirmankan;

      “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39)

      dalam surat Al Kahfi ini dikatakan bahwa tatkala ketika memasuki kebun yang indah maka ucapkanlah “Masya Allah”. hal ini lah yang menjadi landasan bahwa ketika melihat sesuatu yang indah maka kita mengucapkan kalimat “Masya Allah” sebagai bentuk rasa kagum kita kepda Allah karena semua ni bisa terjadi pastilah Atas kehendak Allah swt.

      4. Subhanallah, maknanya adalah Maha Suci Allah. berikut ini contoh kalimat tasbih dalam al-Qur’an dan hadits;

      “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu : “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. (QS. An Nuur 24 : 16)
      “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf 12 : 108)
      “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat : ”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu? Malaikat­-malaikatitu menjawab : “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka : bahkan mereka telah menyembah jin : kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (QS. Saba’ 34 : 40-41)
      Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

      Berdasarkan ayat serta hadist di atas maka nampaklah bedanya bahwa ketika berbicara tentang sesuatu yang buruk ataupun kejelekan maka kalimat yang digunakkan adalah “Subhanallah” yang mana tidak mungkin sesuatu itu dikaitkan kepada Allah atau alah terlepas dari segala kejelekan itu. serta seperti yang di ungkapkan oleh Rasulullah dalam hadist riwayat Tirmidzi diatas, nabi menjawab dengan kalimat “Subhanallah” ketika menanggapi sikap dari salah seorang sahabat dan mengatakan bahwa mukmin itu tidaklah najis.

      Namun kebiasaan yang terjadi disekitar kita kalimat ini sering digunakan sebagai ungkapan suatu kekaguman terhadap karunia Allah sehingga seolah tidak ada pembeda antara Masyaallah dan Subhanallah. Hal ini sah-sah saja sebab di dalam al-Qur’an ada beberapa ayat yang menunjukan sikap ta’ajjub (takjub) atau peristiwa luar biasa yang menggunakan kalimat tasbih seperti terdapat dalam awal surat al-Isra yang menceritakan tentang peristiwa isra’ mi’raj.

      5. Insyaallah, maknanya adalah jika Allah menghendaki. Kalimat ini tepat digunakan sebelum memberikan keputusan terhadap hal yang belum pasti. Sebagaimana dicontohkan dalam al-Qur’an.

      ولا تقولن لشىء إنى فاعل ذلك غدا – إلا أن يشآء الله واذكر ربك إذا نسيت وقل عسى أن يهدين ربى لاقرب من هذا رشدا

      “ Dan janganlah mengatakan, “Aku akan melakukan hal ini dan itu besok”.
      “Kecuali (dengan mengatakan),.” Jika Allah menghendaki “Dan ingatlah Tuhan Anda ketika Anda lupa dan berkata:”Ini mungkin bahwa Tuhanku menuntun ke jalan dekat kebenaran dari ini” (QS 18: 23-24)

      Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.
      Ust. Burhan Ali Setiawan, SHI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *