Topang diafabel, RSI Sultan Agung dan P3D bagikan alat bantu gerak

Seminar Optimalisasi Manajemen K3 Jelang Akreditasi SNARS 2018
April 6, 2018
Pelajar SMK Kesehatan Nusantara belajar penanganan pasca stroke
April 11, 2018
Show all

Protesa atau alat bantu gerak (abg) menjadi penopang bagi seorang difabel yang kehilangan anggota geraknya untuk tetap produktif. Seperti halnya Ziwara (6), seorang gadis kecil berambut ikal yang hidupnya penuh warna. Ia harus merelakan kehilangan kakinya karena diterjang mobil. “Waktu itu Ia sedang membeli jajanan di warung bersama ibunya. Tahu-tahu, Ia diterjang mobil yang dikemudikan oleh orang mabuk. Setelah pemeriksaan, kaki kanannya harus diamputasi karena tidak tertolong” kata salah

seorang kerabatnya yang menemaninya.

 

Gadis kecil berambut ikal itu seakan tahu, episode hidupnya harus

berjalan dengan baik. Ia memilih melupakan peristiwa kelam itu dan tetap berkeinginan melanjutkan sekolahnya. Ia terus menebar senyum ramahnya ketika bersua dengan seseorang.

Seorang difabel lainnya, Suwandi juga serupa kisahnya. Suwandi adalah seorang driver taksi. Tapi karena Diabetes Melitus yang dideritanya, salah satu kakinya terkena infeksi dan diharuskan amputasi. “Supaya tidak terkena infeksi, kaki saya harus diamputasi” ujar Suwandi.  Tapi Suwandi bukanlah orang yang gampang putuh asa. Ia harus menghidupi keluarganya. “Saya bertekad melanjutkan hidup dengan menjalani sopir, dan akhirnya dipasangilah kaki palsu” ujarnya.

Dua kisah inilah yang diungkapkan dalam Penyerahan alat bantu untuk penyandang disabilitas, kerjasama RSI Sultan Agung dengan Paguyuban Peduli Penyandang Disabilitas (P3D).

Vita, ketua P3D menuturkan, bantuan yang diserahkan dalam momen ini sebanyak 10 kaki palsu. Kami harapkan mampu meringankan bantuan para diabel mengingat harga alat bantu gerak ini cukup mahal.

Kepala Dinsos kota Semarang Tomy Yarmawan Said berharap, protesa akan menjadkan para difabel tetap percaya diri. Di tengah-tengah masyarakat pun tetap produktif. “Seperti halnya Ziwara yang masih sekolah dan pak Suwandi yang harus menghidupi keluarganya kita harapkan mereka tetap produktif” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pelayanan dr. H. Sampurna, M.Kes menjelaskan, acara ini merupakan komitmen RSI Sultan Agung sebagai rumah sakit yang ramah bagi difabel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *