Panduan Isolasi Mandiri Anak dengan COVID-19

Webinar Kiat Tetap Sehat dan Selamat Dunia Akhirat di Era PPKM Darurat Pandemi Covid-19
July 12, 2021
Video Profile RSI Sultan Agung Banjarbaru
July 23, 2021
Show all

Jumlah kasus anak dan bayi positif Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Orangtua diharapkan mampu memberikan perawatan tepat saat isolasi mandiri untuk menjaga kondisi buah hati. Sejumlah kasus menunjukkan anak yang positif Covid-19 sementara orangtuanya terbukti negatif. Meskipun WHO sempat menyatakan anak cenderung minim terpapar Covid, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) punya pendapat yang berbeda. Kasus Covid-19 di Indonesia tergolong tinggi hingga menyebabkan kematian. Karena itulah, setiap anak dianjurkan untuk segera mengikuti program vaksinasi yang mulai dilakukan di berbagai daerah. Selain itu, orangtua juga dianjurkan memahami panduan isolasi mandiri (isoman) apabila anak terbukti positif Covid-19. IDAI telah merilis panduan isoman bagi orangtua yang bayi, balita atau anaknya mengalami sejumlah gejala.

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan:

Lakukan isolasi mandiri dengan beberapa catatan berikut
Anak yang terbukti positif tidak harus dirawat di rumah sakit dan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Hanya saja ada beberapa syarat yang harus dipenuhi berkaitan dengan gejala yang dialami dan kondisi anak. Anak yang boleh menjalani isoman haruslah tidak bergejala (asimptomatik) atau mengalami gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah dan ruam-ruam. Selain itu, anak juga masih aktif dan mampu makan serta minum seperti biasa. Dianjurkan linkungan rumah atau kamar memiliki ventilasi yang baik.

Orangtua tetap dapat mengasuh anak yang positif Covid-19
Orangtua tetap bisa mengasuh anak atau balitanya yang positif Covid-19. IDAI menyarankan orangtua yang berisiko rendah terhadap gejala berat corona. Orangtua dan anak yang berbeda status juga disarankan tidur di kasur yang terpisah dengan jarak dua meter. Jika ada anggota keluarga lainnya yang positif maka dapat diisolasi bersama. Lakukan pemeriksaan suhu tubuh dua kali sehari kepada anak pada pagi dan malam hari. Pantau gejala yang muncul dan berikan dukungan psikologis pada anak.

Kenali tanda bahaya pada anak
Anak harus segara dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan tenaga kesehatan jika menunjukkan sejumlah tanda bahaya. Gejala yang berbahaya termasuk anak terlalu banyak tidur, napas cepat, ada cekungan di dada, hidung kembang kempis, mata merah, ruam, leher bengkak, kejang dan mata cekung. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah Buang Air Kecil (BAK) berkurang, demam lebih dari tujuh hari, saturasi oksigen <95 persen, dan tidak bisa makan serta minum. Perhatikan pula laju napas pada anak untuk menentukan apakah perlu dibawa ke rumah sakit. Berdasarkan panduan dari IDAI, dianggap berbahaya jika laju napas lebih dari 60x per menit pada bayi di bawah dua bulan, lebih dari 50x pada bayi usia dua sampai 11 bulan, lebih dari 40x pada balita 1-5 tahun, dan lebih dari 30x per menit pada anak di atas usia lima tahun.

Sediakan alat untuk isoman
Sediakan alat bantu kesehatan seperti termometer dan oxymeter untuk memantau kondisi anak. Termometer untuk mengukur suhu badan anak khususnya ketika mengalami demam. Sedangkan oxymeter berfungsi mengukur saturasi oksigen dan frekuensi nadi pada anak.

Obat yang perlu disiapkan di rumah
Orangtua disarankan untuk menyediakan obat demam seperti peracetamol untuk diberikan kepada anak saat isoman. Sediakan pula zink, berikan 20 mg per hari yang diberikan selama 14 hari. Sediakan multivitamin khususnya vitamin C dan D3 untuk diberikan secara berkala. Sesuaikan dosisnya sesuai dengan usia dan berat badan anak.

Gunakan masker
Masker tetap dianjurkan untuk dipakai khususnya bagi anak di atas usia dua tahun atau sudah dapat melepaskan dan memasangnya sendiri. Pastikan masker terpasang dengan tepat agar fungsinya sempurna dan lepaskan ketika tidur. Berikan istirahat masker jika anak berada di ruangan sendiri atau berjarak dua meter dari pengasuh. Sebaliknya, pengasuh atau orangtua yang berada di dalam ruangan yang sama disarankan menggunakan masker atau pelindung mata bila memungkinkan.

Sumber : Kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *