Pasien Covid-19 Semakin Berkurang

Peringati Hari Diabetes Nasional 2021, RSI Sultan Agung Gelar Senam Bersama dan Seminar Online
November 16, 2021
Video Ucapan Hari Dokter Nasional
November 18, 2021
Show all

Direktur Utama Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung dr H Masyhudi AM M.Kes merasa bersyukur karena jumlah pasien Covid-19 semakin berkurang.

Bahkan hingga 12 November 2021 lalu di RSI Sultan Agung sudah tidak ada lagi pasien Covid.

‘’Kalau ada yang memprediksi pada Desember 2021 akan terjadi ledakan Covid akibat libur Natal dan Tahun Baru, boleh-boleh saja. Tetapi kalau ada yang memprediksi Desember 2021 Covid sudah hilang dari bumi Indonesia kan juga boleh-boleh saja,’’ katanya, Sabtu (13/11).

Dia mengatakan hal itu dalam Semiloka Penguatan Ketahanan Keluarga di Era Pandemi di Hotel Pandanaran, Semarang, Sabtu (13/11). Semiloka yang diselenggarakan oleh Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga bekerja sama dengan Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat MUI Jateng, dibuka Ketua Umum Dr KH Ahmad Darodji MSi.

Ketua Panitia Dra Hj Munawaroh Nurhadi menjelaskan, semiloka yang diikuti pengurus MUI se-Jateng menghadirkan pembicara Wakil Ketua Umum MUI Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam, Direktur Utama RSI Sultan Agung sekaligus Ketua Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat MUI Jateng dr H Masyhudi AM M.Kes, Kepala Puskesmas Mijen dr Hj Masfufah, Ketua MUI Prof Dr Hj Sri Suhanjati dan Dra Hj Zuhar Mahsun.

Menurut dr Masyhudi, sebagian besar Kabupaten / Kota di Jawa Tengah sudah PPKM Level 2, bahkan banyak yang sudah level 1 termasuk Kota Semarang. Meski begitu, dia mengajak warga masyarakat untuk tetap waspada dan jangan lengah.

‘’Tetap menjaga protokol kesehatan 5M secara ketat,’’ katanya.

Terhadap sejumlah prediksi-prediksi tersebut dia mengajak warga untuk jangan takut dan panic. Sebab ketakutan dan kepanikan itu sendiri merupakan bagian dari penyakit.

‘’Ketakutan atau kepanikan adalah separuh penyakit Ketenangan adalah separuh obat,’’ tegasnya.

Sebagai Ketua Komisi Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat MUI Jateng dia berpendapat instrumen zakat, infak dan shodaqoh dan wakaf sangat diperlukan untuk mengatasi dampak ekonomi dari pandami covid 19.

Instrumen itu agar diefektifkan agar benar-benar membantu masyarakat yang terdampak.

“Dampak pandemi ini banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Kemudian, ada pekerjaannya, tapi penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kehidupan normalnya,” katanya.

Cuci Tangan

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr. Mochamad Abdul Hakam, Sp.PD dalam materi tentang Ketahanan Keluarga dalam Perspektif Kesehatan Masa Pandemi mengatakan, salah satu tips sehat itu adalah cuci tangan. Saat ini kasus-kasus seperti diare itu turun drastis berkat cuci tangan. Ini hikmah pandemi,” kata Hakam.

Hakam menjelaskan tentang perkembangan sebaran Covid 19 di Kota Semarang yang masih dalam level 1. Meski dalam level tersebut, pemerintah bersama masyarakat harus tetap berikhtiar tetap menjaga protokol kesehatan agar tidak terjadi lonjakan kasus baru.

Ia menyebut di beberapa negara yang abai terhadap protokol kesehatan sudah terjadi lonjakan kasus covid 19, meskipun penduduknya sudah divaksin 100 persen dan sebagian warganya sudah divaksin lebih dari 2 kali.

“Kita tetap harus berikhtiar, untuk terus menerapkan protokol kesehatan tetap. Di berbagai negara, ada gelombang 4 karena terlalu percaya diri, dan mengira sudah vaksin 100 persen aman. Pasien yang saya rawat, pasca Agustus itu sudah dua kali vaksin, bahkan ada yang 3 kali. Kita bukan peramal, tapi kita punya prediksi, bahwa saat ini terjadi tren lonjakan kasus,” tambahnya.

Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang Prof Dr Hj Sri Suhandjati MAg mengingatkan peran orang tua dalam membentuk keluarga yang kuat. Peran itu salah satunya adalah memberi informasi kepada anak sebelum menjelang usia baligh.

“Perlu penyampaian ilmu kepada anak ketika sudah mulai atau menjelang baligh, baik kepada perempuan dan laki-laki. Kepada perempuan, dijelaskan apa itu haid, dan bagaimana cara bersucinya, bagaimana berhubungan dengan lawan jenis. Begitu juga dengan laki-laki,” katanya.

Hj. Siti Masfufah, M. Kes berpendapat pendidikan pra-nikah bagi calon pengantin merupakan cara untuk membentuk ketahanan keluarga. Setiap calon pengantin wajib mengikuti pendidikan pra-nikah untuk bekal mengarungi kehidupan rumah tangga.

 

Sumber : https://www.smol.id/news/pr-711642254/pasien-covid-19-semakin-berkurang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *